Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah propinsi tertua kedua di Negara
Republik Indonesia setelah Jawa Timur, yang dibentuk oleh pemerintah
negara bagian Indonesia. Propinsi ini juga memiliki status istimewa
atau otonomi khusus. Status ini merupakan sebuah warisan dari zaman
sebelum kemerdekaan. Kasultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku
Alaman, sebagai cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai
“Kerajaan vasal / Negara bagian / Dependent state” dalam pemerintahan
penjajahan mulai dari VOC , Hindia Perancis (Republik Batavia
Belanda - Perancis), India Timur / EIC (Kerajaan Inggris), Hindia Belanda
(Kerajaan Nederland), dan terakhir Tentara Angkatan Darat XVI Jepang
( Kekaisaran Jepang ). Oleh Belanda status tersebut disebut sebagai
Zelfbestuurende Lanschappen dan oleh Jepang disebut dengan Koti/Kooti.
Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan
untuk mengatur dan mengurus wilayah [negaranya] sendiri di bawah
pengawasan pemerintah penjajahan tentunya. Status ini pula yang
kemudian juga diakui dan diberi payung hukum oleh Bapak Pendiri Bangsa
Indonesia Soekarno yang duduk dalam BPUPKI dan PPKI sebagai sebuah
daerah bukan lagi sebagai sebuah negara.
(Sumber :http://id.wikipedia.org)
Sejarah Keraton Jogjakarta
Antara
tahun 1568 – 1586 di pulau Jawa bagian tengah, berdiri Kerajaan Pajang
yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya, di mana semasa mudanya beliau
terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Dalam pertikaian dengan Adipati dari
Jipang yang bernama Arya Penangsang, beliau berhasil muncul sebagai
pemenang atas bantuan dari beberapa orang panglima perangnya, antara
lain Ki Ageng Pemanahan dan putera kandungnya yang bernama Bagus
Sutawijaya, seorang Hangabehi yang bertempat tinggal di sebelah utara pasar dan oleh karenanya beliau mendapat sebutan : Ngabehi Loring Pasar.
Sebagai balas jasa kepada Ki Ageng Pemanahan dan puteranya itu, Sultan
Pajang kemudian memberikan anugerah sebidang daerah yang disebut Bumi
Menataok, yang masih berupa hutan belantara, dan kemudian dibangun
mejadi sebuah “ tanah perdikan ”. Sesurut Kerajaan Pajang, Bagus
Sutawijaya yang juga menjadi putra angkat Sultan Pajang, kemudian
mendirikan Kerajaan Mataram di atas Bumi Mentaok dan mengangkat diri
sebagai Raja dengan gelar Panembahan Senopati.
Salah seorang putera beliau dari pekawinannya dengan Retno Dumilah,
putri Adipati Madiun, memerintah Kerajaan Mataram sebagai Raja ketiga,
dan bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, Beliau adalah seorang patriot
sejati dan terkenal dengan perjuangan beliau merebut kota Batavia, yang sekarang disebut Jakarta